Kamis, 31 Maret 2016

Budaya perawatan tubuh tradisional Indonesia

www.bbc.com/indonesia
Perawatan tubuh seperti lulur dan spa menjadi kebutuhan dan gaya hidup sebagian masyarakat kota-kota besar di Indonesia.
Salah satunya adalah Evi yang lazim ke salon perawatan tubuh khusus perempuan di akhir pekan. Bagi guru sekolah menengah atas ini, lulur adalah jenis perawatan favoritnya.
"Ya, supaya kulit kelihatan bersih dan fresh (segar) karena kan saya kerja dari Senin sampai Jumat. Perawatan tradisional kayaknya bahan-bahannya jelas, kita sudah tahu. Gak aneh-aneh gitu," kata Evi.
Evi mengaku biasa menggunakan lulur tradisional yakni lulur Jawa dan Bali.
Namun berbagai daerah dan suku di Indonesia ternyata juga memiliki jenis perawatan tubuh tradisional.
Suku Batak misalnya mengenal jenis perawatan tubuh yang dinamai Martup, lulur dari budaya Minang disebut Batangeh dan suku Betawi mengenal Tangas.

Sejarah perawatan tubuh

Sejarah budaya perawatan tubuh di Indonesia sudah dimulai sejak adanya suku-suku di Indonesia, kata Lourda Hutagalung pendiri Indonesia Spa Professional Association.
Namun karena budaya ini tidak terlalu dipelajari, maka keberagaman jenis perawatan tubuh tradisional di Indonesia terlupakan.
Perawatan tubuh pun dewasa ini dianggap hanya sebagai cara untuk mendapatkan tubuh yang bersih.


Spa
Image captionPerawatan tubuh memiliki berbagai khasiat seperti untuk kesehatan mental dan kecantikan tubuh

Padahal budaya perawatan tubuh memiliki arti yang lebih luas lagi, yakni menyatukan kesehatan mental, tubuh dan spiritual individu, ungkap Lourda.
Hal ini bisa dilihat dari bagaimana berbagai suku di Indonesia berdoa terlebih dahulu sebelum memulai perawatan tubuh.
"Misal di Ngadi Saliro, perawatan tubuh dari Jawa, kalau mau cantik ya kelakuannya gimana, cara berpikirnya gimana, hatinya gimana, jadi ada filosofi di situ. Ada attitude (sikap) yang diajarkan di situ," jelas Lourda.
Ada manfaat lain pula dari Ngadi Saliro menurut Lourda.

Falsafah spa

"Sebenarnya kalau kita mau membangun bangsa ini, dari falsafah-falsafah spa ini, ya dari situ sebenarnya kita sudah bisa berbenah sedikit tentang mentalitas bangsa," tambah Lourda.
Belum diketahui secara pasti berapa jenis perawatan tubuh tradisional yang ada di Indonesia, tapi saat ini sedikitnya tercatat ada sembilan jenis spa tradisional.





Image caption

Kesembilan jenis spa ini adalah Tangas dari suku Betawi di Jakarta, Batangeh dari Sumatera Barat, Oukup dari Sumatera Utara, Ngadi Saliro dari Jawa, Boreh dari Bali, So'oso dari Madura, Batimung dari suku Banjar di Kalimantan Selatan, Bakera dari Sulawesi Utara dan Bedda Lottong dari Sulawesi Selatan.
Budaya perawatan tubuh ini memiliki perbedaan seperti wanita suku Minahasa biasanya menggunakan Bakera setelah melahirkan, sedangkan suku Madura kerap menggunakan So'oso untuk perawatan alat kelamin.
Terlepas dari perbedaan khasiatnya, berbagai jenis perawatan ini memilki sebuah persamaan, kata Lourda.
"Hampir dari ujung ke ujung (Indonesia) pakai cengkeh, jahe, serai, melati, mawar, jadi ada hal yang sama," tutur Lourda.

Disukai di luar negeri

Perawatan tubuh Indonesia seperti spa ternyata juga digandrungi di luar negeri, kata Syahrani, seorang terapis spa.
Dalam kurun waktu 14 tahun dia bekerja di salon spa, Syahrini pernah bekerja di salon spa di Malaysia.
Dia melihat bagaimana masyarakat Malaysia menyukai perawatan tubuh tradisional Indonesia di tengah maraknya perawatan tubuh dari negara Asia lain seperti Jepang dan Thailand.



Image caption"Kalau tradisional kan rasanya nyaman, bisa relax (beristirahat). Badan kita kalau lagi dimassage (dipijat) bisa tidur. Kalau Shiatsu misalnya diinjak-injak. Banyak yang bilang kurang relax. Tapi ya nyaman juga. Mungkin selera kali yah," kata Syahrini.

Agar budaya perawatan tubuh tradisional Indonesia terus dilestarikan, Patricia Medina Priyatna, direktur proyek pameran Beauty Professional Indonesia yang diadakan di Jakarta awal bulan ini, berharap pemerintah gencar mempromosikan budaya perawatan tubuh tradisional, bahkan hingga ke manca negara.
"Pariwisata itu industri unggulan. Nah, di dalam industri unggulan itu, 60% itu memang budaya, wisata budaya. Di dalam wisata budaya itu ada spa. Kenapa spa itu harus jadi wisata budaya? Karena itu warisan nenek moyang," ungkap Patricia.
sumber: http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/08/150804_majalah_senibudaya_spa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar